Minggu, 24 Juli 2011

Bioskop Terancam Bangkrut


Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) meminta pemerintah mengeluarkan regulasi yang dapat menguntungkan industri bioskop di Tanah Air. Bila bioskop tidak dilindungi, maka ke depannya terancam banyak yang gulung tikar.

Menurut Ketua Umum GPBSI, Djonny Syafruddin, tidak tayangnya film-film Hollywood di bioskop domestik telah mengakibatkan kerugian yang cukup signifikan. Pendapatan bioskop menjadi berkurang karena sedikitnya kuantitas penonton.
"Jumlah penonton menurun drastis," kata dia saat jumpa pers di Hotel Acacia, Jakarta, Sabtu 23 Juli 2011. "Kondisi juga mengakibatkan penurunan pendapatan bagi produser film nasional."

Tidak tayangnya film-film Hollywood, kata Djonny, turut berpengaruh pada pendapatan daerah yang berasal dari pajak sektor film. Di Jakarta, pada bulan pertama 2011, pendapatan sektor pajak tercatat Rp3,9 miliar per bulan, dan berangsur-angsur menurun, sehingga pada Juni hanya Rp1,8 miliar. "Ini berarti terjadi penurunan lebih dari 50 persen," ujar Djonny.
Karena itu, GPBSI meminta pemerintah membuat regulasi agar tercipta kesamarataan bagi bioskop-bioskop untuk memperoleh pasokan film. Usulan agar pemerintah membuat Peraturan Menteri mengenai Tata Edar Film dipercaya dapat menyehatkan kembali kondisi perbioskopan yang selama ini kritis.

"DPP GPBSI telah mengupayakan agar bioskop, khususnya bioskop menengah ke bawah mendapatkan suplai film yang wajar dan adil," tuturnya.

Pemerintah, kata Djonny, turut diharapkan dapat meninjau kembali biaya listrik yang selama ini menjadi beban terberat dalam oprasional usaha perbioskopan. "Tarif listrik menjadi beban terberat yakni sebesar 60 persen dalam oprasional bioskop, sisanya untuk perawatan, pegawai, dan lain-lain," kata Djonny.

Seperti diketahui, pemerintah telah mengeluarkan izin impor untuk importir baru 'Omega Film' mengimpor film-film produksi Motion Pictures Association of America (MPAA). MPAA adalah gabungan perusahaan pemroduksi film major Hollywood.

Sebelumnya, terjadi kemelut mengenai bea masuk dan pajak film impor antara pemerintah dan pihak importir. Kesalahan interpretasi mengenai kebijakan pungutan pajak mengakibatkan penghentian impor film-film Hollywood ke Indonesia.

Setelah melalui konsolidasi antara pemerintah dengan pihak importir akhirnya disepakati beberapa hal, yakni tarif bea masuk impor film naik sebesar 100 persen dari tarif lama dan sistim perhitungannya tidak lagi mengukur panjangnya film tetapi berdasarkan durasi.

Dengan selesainya permasalahan tersebut, kini bioskop siap memutar kembali film-film box office seperti 'Harry Potter and The Deathly Hollows-Part 2', 'Transformer: Dark of The Moon', dan lain sebagainya pada akhir Juli 2011.
Read more.. >> Read more...

Jolie Hibur Anak Lewat 'Harry Potter'


Angelina Jolie membawa enam anaknya menyaksikan film 'Harry Potter and Deathly Hallows: Part 2' di London, Jumat waktu setempat. Mereka menyewa satu ruang khusus untuk menonton aksi Harry Potter.

Seorang sumber mengatakan, Jolie dan enam anaknya, Maddox, Pax, Zahara, Shiloh, dan si kembar Knox dan Vivienne menonton bagian akhir sekuel 'Harry Potter' di Richmond Odeon teater pada ruangan yang disewa secara khusus.

Sementara sang ayah, Brad Pitt, tidak ikut dengan keluarganya karena tengah menyelesaikan film. Pitt berperan dalam sebuah film yang bercerita soal zombie, 'War World Z' yang tengah syuting di Inggris.
Sebelumnya, Jolie menghabiskan akhir pekan lalu di Hollywood. Dia tertangkap kamera sedang berbelanja dengan Shiloh dan Zahara pada Minggu silam.

Seorang sumber menyatakan, keluarga Jolie-Pitts membeli banyak makanan untuk dihabiskan saat menonton film. "Semua anak membeli hotdog, popcorn, dan minuman. Mereka tampak akan menghabiskan waktu yang menyenangkan."

Bintang 'Salt' ini terlihat berada di luar teater sambil menggendong Viv di pinggulnya dan memegang tangan Knox. Viv tampak menggemaskan dalam balutan gaun merah muda bermotif bunga. Sedangkan Knox memakai celana panjang dan kemeja lengan panjang hitam serasi dengan pakaian sang bunda.

"Mereka tidak mengatakan apakah mereka akan kembali," kata petugas teater kepada US Magazine. "Tapi kami selalu membuka diri kapanpun mereka ingin datang kembali," ucapnya.
Read more.. >> Read more...

Bea Masuk Naik, Tiket Film Tetap


Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) menegaskan bahwa kesepakatan kenaikan tarif bea masuk film impor dan sistem perhitungannya tidak akan berpengaruh terhadap kenaikan harga tiket masuk studio.

Menurut Ketua Umum GPBSI, Djonny Syafruddin, kebijakan itu hanya berimplikasi pada importir film bukan industri perbioskopan Tanah Air. "Tidak berpengaruh pada kita," ujarnya kepada VIVAnews.com seusai jumpa pers di Hotel Acacia, Jakarta, Sabtu 23 Juli 2011.

Beberapa hal yang mempengaruhi harga tiket masuk, lanjutnya, terdapat pada faktor pajak daerah dan biaya operasional industri bioskop. Seperti diketahui, tingginya tarif listrik mengakibatkan 60 persen beban bioskop terserap pada sektor tersebut.

"Apabila pemerintah menaikkan harga tarif listrik, maka hal itulah yang membuat kami mulai berhitung kembali," imbuhnya.

Kebijakan pemerintah yang mengkaji ulang tarif bea masuk film impor, menurut dia, didasari oleh rendahnya tarif bea masuk film menuju Indonesia. Kebijakan tarif bea masuk sebelumnya jauh berada dibawah negara tetangga, seperti Thailand.

"Dengan adanya kenaikan ini maka tarif bea masuk kita menjadi setara dengan Thailand. Ini berimplikasi pada semakin besarnya pendapatan negara," tuturnya.

Seperti diketahui, polemik terkait tarif bea masuk dan sistem perhitungannya membuat Motion Pictures Association of America (MPAA) menyetop impor film menuju Indonesia. Setelah melalui proses konsolidasi dengan pihak MPAA akhirnya disepakati sebuah jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Dengan berakhirnya permasalahan ini, masyarakat Indonesia kembali dapat menikmati film-film box office jebolan MPAA seperti 'Harry Potter and The Deathly Hollows-Part 2', 'Transformer: Dark of The Moon', dan lain sebagainya pada akhir Juli ini.
Read more.. >> Read more...

Harry Potter Tayang, Transformer Menyusul


Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) mengatakan tiga penyihir Hogwarts, Harry, Ron, dan Harmione akan lebih dulu menyihir pecinta film Tanah Air dalam filmnya berjudul 'Harry Potter and The Deathly Hollows-Part 2'. Seperti diketahui terdapat dua film yang saat ini ditunggu masyarakat Indonesia yakni Harry Potter dan 'Transformer: Dark of The Moon'.

Menurut Ketua Umum GPBSI, Djonny Syafruddin, bioskop tak bisa menayangkan dua film secara bersamaan karena masalah waktu. Dekatnya bulan suci Ramadhan membuat asosiasi mengurungkan niatnya menayangkan kedua film itu secara berdekatan.

"Karena pada minggu-minggu pertama ibadah puasa membuat masyarakat memilih beribadah ke masjid," kata Djohnny kepada wartawan seusai jumpa pers di Hotel Acaciana, Jakarta, Sabtu 23 Juli 2011.

Untuk memuaskan dahaga para pecinta film Indonesia, lanjutnya, importir film telah menyiapkan 99 kopi film Harry Potter yang rencananya akan tayang pada akhir Juli ini. Saat ini film tersebut telah lulus dari badan sensor Indonesia dan siap untuk diedarkan. "Kami harapkan dengan jumlah tersebut, seluruh bioskop di Indonesia dapat secara serentak menanyangkan film Harry Potter," imbuhnya.

Dengan kembalinya film box office Hollywood, tambahnya, diharapkan dapat menggairahkan kembali industri bioskop domestik. Selama bioskop tidak menanyangkan film-film box office, terjadi penurunan angka pengunjung yang cukup signifikan.

"Biasanya bila dilihat secara nasional pengunjung rata-rata mencapai 400 hingga 500 ribu tiap bulannya. Saat ini untuk mencapai angka 100 ribu saja sulit," tuturnya.

Seperti diketahui, pemerintah telah mengeluarkan ijin impor untuk importir baru 'Omega Film' mengimpor film-film produksi Motion Pictures Association of America (MPAA). MPAA adalah gabungan perusahaan pemroduksi film major Hollywood.

Sebelumnya, terjadi kemelut mengenai bea masuk dan pajak film impor antara pemerintah dan pihak importir. Kesalahan interpretasi mengenai kebijakan pungutan pajak tersebut mengakibatkan penghentian impor film-film Hollywood ke Indonesia.

Setelah melalui konsolidasi antara pemerintah dengan pihak importir akhirnya disepakati beberapa hal yakni tarif bea masuk impor film naik sebesar 100 persen dari tarif lama dan sistim perhitungannya tidak lagi mengukur panjangnya film tetapi berdasarkan durasi. Dengan selesainya permasalahan tersebut, kini bioskop siap memutar kembali film-film box office.
Read more.. >> Read more...